On The News

Pergerakan Pasar Sekunder di Jakarta dan Bandung

Pergerakan Pasar Sekunder di Jakarta

                Berdasarkan analisis yang dilakukan di Indonesia Property Watch dan Bank Indonesia, pasar sekunder di semua wilayah di Jakarta mengalami kecenderungan perlambatan sejak tahun 2013 sampai akhir tahun 2015. Sebagian besar wilayah di Jakarta mengalami koreksi harga rata-rata sampai 0,5 persen, namun di beberapa lokasi koreksi harga dapat mencapai 3 persen sampai 5 persen. Wilayah-wilayah Kelapa Gading dan Pantai Indah Kapuk mengalami koreksi harga tertinggi, meskipun demikian kondisi ini berangsur-angsur pulih memasuki semester II/2016. Melihat kondisi ini diperkirakan keseimbangan pasar sudah mulai terjadi di wilayah-wilayah ini secara umum.
                Pada pertengahan tahun 2016, pasar sekunder relatif sudah mulai menunjukkan pergerakan dengan pertumbuhan tertinggi berada di Jakarta Timur. Bahkan di awal tahun 2016 pasar sekunder mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) diperkirakan menjadi salah satu sebab pasar lebih optimis khususnya di jalur-jalur yang akan dilalui jaringan tranportasi ini, seperti Kelapa Gading, Pulomas, Fatmawati, TB Simatupang, dan Lebak Bulus. Peningkatan ini masih diperkirakan terlalu tinggi yang terbukti dengan kembali terjadi koreksi dan perlambatan di Q2/2016.
                Melihat kondisi pasar sekunder Jakarta ke depan, meskipun masih terjadi fluktuasi harga, namun tren positif sudah mulai terlihat di akhir tahun 2016. Selain sudah mulai terbatasnya pasar primer di Jakarta, pembangunan beberapa infrastruktur akan menjadi penentu arah perkembangan pasar sekunder di Jakarta.

 

Pergerakan Pasar Sekunder Bandung

                Berdasarkan analisis yang dilakukan di Indonesia Property Watch dan Bank Indonesia, terlihat perkembangan harga rumah sekunder di wilayah Bandung masing mengalami perlambatan sampai akhir tahun 2016. Wilayah Bandung Timur dan Bandung Selatan, yang sempat mengalami pertumbuhan beberapa triwulan, di Q4-2016 relatif mengalami penurunan. Sebaliknya wilayah Bandung Kota menunjukkan pertumbuhan tertinggi. Begitu pula dengan wilayah Bandung Utara. Beberapa hal yang diperkirakan memberikan dampak negatif di wilayah-wilayah Bandung terkait dengan banjir yang melanda Kabupaten bandung. Meskipun sebagian besar banjir terjadi di Kabupaten Bandung, namun secara psikologisnya berdampak pada pergerakan pasar rumah khususnya di wilayah Bandung Timur dan Bandung Selatan.
                Akibat bencana banjir di Kabupaten Bandung yang berbatasan dengan wilayah Kota Bandung beberapa waktu lalu memberikan dampak terhadap koreksi harga rumah sekunder. Banjir yang melanda Kecamatan Baleendah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojongsoang, Kecamatan Rancaekek, dan Kecamatan Majalaya, mengakibatkan kekhawatiran pasar akan berimbas ke wilayah Kota Bandung. Hal ini tergambarkan dengan koreksi harga rumah pada kedua wilayah ini. Di wilayah Bandung Barat, pembangunan Jalan Tol Soreang - Pasir Koja (Soroja) masih belum dapat mendongkrak harga rumah sekunder. Rencana pembangunan Jalan Tol Pasteur yang tembus hingga Ujungberung dan Cileunyi, setidaknya akan membuat kawasan Bandung Timur dan Selatan menjadi salah satu kawasan yang bernilai ekonomis dalam jangka panjang.
                Selain itu pembangunan infrastruktur yang mengarah ke Bandung Timur dengan perencanaan proyek jalan tol yang akan menghubungkan Purbaleunyi dan Gede Bage akan berimbas pada Bandung Selatan. Termasuk pembangunan di Kota Bandung kini semakin bertumbuh dengan adanya rencana pembangunan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Kawasan Bandung Timur terasa akan lebih maju, minimal untuk kawasan Cileunyi, Jatinangor, hingga ke arah Sumedang. Seiring juga dengan pembanguna Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang sudah mulai direncanakan. Hal ini terlihat dari pergerakan harga di wilayah Mandalajati, Cibiru, dan sekitarnya. Tren harga rumah sekunder di Bandung belum secara jelas terlihat. Sampai akhir tahun 2016 relatif masih memerlihatkan kecenderungan melambat, meskipun wilayah Bandung Kota dan Bandung Selatan sempat terjadi peningkatan. Pergerakan harga rumah akan terjadi di wilayah-wilayah yang berpotensi dilalui rencana infrastruktur akan menjadi arah perkembangan wilayah Bandung yang akan mendongkrak harga rumah sekunder.


Disadur dari : Indonesia Properti Market Handbook, 2017, hal 43-45
Written by: Business Development Date: Kamis, 14 Desember 2017 15:18 WIB

Categories